
Hawa dingin Kota Soe di akhir April, mengiringi langkah saya dan dua jurnalis menyusuri deret-deret ruang kelas di SMA Negeri 1 Soe pada Rabu, 29/4/2026. Ruang yang kami tuju, letaknya terhimpit di sisi Selatan sebuah gedung berlantai dua. Sepi dan hening, itu kesan pertama saat tiba di dalam ruang sekira pukul 12.45 WITA.
Ruang bercat putih berukuran 9×8 meter itu, dipenuhi komputer dan perangkat digital lain. Seorang guru tampak berada di balik puluhan komputer yang berjejer rapi. Di era digital saat ini, laboratorium komputer adalah jantung sekolah. Di sanalah pusat kreatifitas dibangun, termasuk dalam urusan asesmen berbasis perangkat digital.
Keheningan ruang mulai pecah, oleh percakapan dengan bung Lenzo dan bung Efan. Keduanya adalah jurnalis kawakan di Timor Tengah Selatan (TTS). Bung Lenzo, pegiat literasi yang menulis untuk sekolahtimur.com dan banyak bergerak melalui Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kabupaten TTS.
Bung Efan, di sisi lain adalah jurnalis Televisi Republik Indonesia (TVRI) di TTS. Kami bertiga terlibat bersama, sebagai juri dalam Lomba Menulis feature bertema seni dan kebudayaan bagi pelajar SMA di Kabupaten TTS.
Interakasi semakin cair, seiring hadirnya 15 pelajar, calon penulis muda di ruang lomba. Soe, Niki-Niki, Ayotupas, Kokbaun, Nunbena, Benlutu, seakan merepresentasikan perwakilan tiga swapraja yakni Amanuban, Amanatun dan Mollo, yang menopang TTS secara kultur, sosiologi dan geografi.
Dari tatapan mata mereka, terpancar aura ketegangan dalam ajang asah ide seperti ini. Ada 14 cewek dan 1 cowok yang siap mengalirkan ide, di atas keyboard dan layar komputer. Apakah angka ini menegaskan, bahwa kaum perempuan lebih effort dalam memberdayakan akal budi ketimbang laki-laki?
Entahlah, tetapi sepanjang pengamatan saya pada cabang lomba lain seperti debat, cerdas cermat, menari, baca puisi, dan menyanyi solo, semuanya didominasi perempuan. Tentu saja ini fakta bagus dari perspektif kesetaraan gender.
Waktu lomba dimulai tepat pukul 14.15 WITA. Saya begitu menikmati raut wajah serius para peserta. Serius, menjadi indicator sederhana bahwa kognisi mereka sedang bekerja keras. Aktifitas menulis, memicu memori otak bekerja secara kompleks.
Saat menulis, otak bekerja simultan untuk mengaktifkan kemampuan, mengingat, memahami, menginterpretasikan, menganalisis, menyimpulkan dan banyak kemampuan lain. Bagi seorang guru, kelompok kemampuan ini identik dengan tingkatan berpikir dalam berbagai taksonomi, Bloom salah satunya.
Setelah larut dalam keheningan berpikir lebih dari dua jam, naskah para penulis tampak mulai rampung. Pilihan judul umumnya merujuk isu lokalitas di TTS. Ini menarik, karena memancarkan kepekaan meneropong fenomena di lingkungan sekitar. Apalagi, penulisnya adalah para manusia muda yang hari-hari ini lebih mengagungkan sesuatu yang berbau modernitas, ketimbang nilai-nilai budaya local.

Besar di Pangkuan Ume Kbubu, Enam Bulan Harga Sebuah Warisan, Sehelai Benang, Seribu Harapan, ini adalah beberapa judul yang eye catching. Selain mencerminkan budaya lokal, judul-judul ini sungguh manis, karena lahir dari ruang pikir para penulis muda.
“Ajang ini sangat positif. Anak murid dapat belajar bahwa menulis feature bukan sekedar merangkai kata, tapi menghidupkan cerita dari sekitar mereka”, kata Lodia Talan, S.Pd., guru pembimbing dari SMA Negeri Tupan.
Aan Banu, peserta dari SMA Negeri Kualin juga mengisahkan pengalaman uniknya melakukan wawancara dengan narasumber. Menurutnya, ini pengalaman pertamanya menggali informasi dari seorang penenun motif Amanuban. Meski belum meraih juara, Ia menuturkan pengalaman mengikuti ajang ini adalah guru yang paling berharga.
Performa murid dalam ajang ini, menurut saya tidak lahir dari ruang hampa. Sekolah sebagai lokus utama pembelajaran, memainkan peran krusial. Peran manajerial kepala sekolah dan kepemimpinan pembelajaran seorang guru, mutlak diperlukan untuk mencerahkan iklim literasi di sekolah.
“Kegiatan ini bukan hanya penting bagi anak-anak, tetapi juga bagi kita sebagai guru. Giat semacam ini bisa memajukan literasi kita”, tutur Kainan Punuf, S.Pd., koordinator lomba.
Hal senada ditegaskan Lodia Talan. Menurutnya, guru, kiranya menjadi teladan dalam menulis, misalnya dengan mengaktifkan kelas jurnalistik. Baginya, literasi di sekolah bisa tumbuh, jika ekosistem pendukungnya hidup.
Lebih lanjut, Kainan Punuf selaku koordinator bejanji, jika kembali dipercayakan sebagai koordinator dalam ajang tahun depan, Ia berharap kepanitiaan akan dibentuk lebih awal sebelum lomba dilaksanakan, agar ada waktu melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah.
Komitmen ini berangkat dari data partisipasi sekolah dalam giat ini. Dari 57 SMA negeri dan swasta yang ada di TTS, hanya 15 sekolah yang mengirim siswa untuk terlibat. Data ini bisa menjadi refleksi bagi para kepala SMA, soal komitmen mereka untuk menumbuhkan kultur literasi di sekolah.
Ajang perayaan hardiknas bukan sebuah seremonial belaka, tetapi dari kacamata literasi, ini adalah ladang menyemai bibit-bibit penulis dalam diri para manusia muda, murid-murid kita.
Mereka tidak kekurangan ide. Yang diperlukan adalah, ruang ekspresi dan bimbingan. Pada titik ini, peran sekolah dan guru tak terbantahkan.

Mantap kk🙏