
Pukul 09.00 WITA, Suara derap alat tenun kayu “tak…tak…tak” mulai memecah pagi di Sanggar Kolkita, Desa Sono, Amanataun Utara. Jari-jemari Mama Baceba (59 tahun), menari lincah di atas alat tenun kayu, menyulam benang sampai menjadi sehelai kain yang memancarkan budaya Amanatun.
Diantara para penenun itu, jari-jemari renta Mama Baceba yang paling fasih bercerita. Perjuangannya untuk menyelesaikan satu sarung besar seharga Rp3 juta, Ia membutuhkan waktu enam bulan dari pagi sampai sore.
“Kalau memang kita fokus untuk kerja, kadang tidak sampai enam bulan sudah selesai.”
Demi menyelesaikan satu sarung, kami sampai lupa untuk makan,” ucap Mama Baceba sambil tertawa. Enam bulan menukar mata yang paling kabur dengan sehelai benang, karena menenun bukan hanya merangkai benang menjadi sarung, tapi cara belajar merawat warisan dari nenek moyang.
Selama enam bulan, Mama Baceba tidak duduk diam. Setiap pagi, Ia selalu menyiapkan benang, merentangkan alat tenunnya. Kemudian menghitung pola motif satu persatu.
Jika salah satu benang lepas, maka seluruh barisannya harus diulang. Perjuangannya menunjukan ketekunan luar biasa, meski matanya sudah rabun, tetapi ia masih tetap menenun.
Dua puluh menit waktu tempuh dari rumah saya ke rumah Mama Baceba. Perjalanan dua puluh menit terasa begitu singkat dibandingkan dengan enam bulan yang Ia habiskan dari pagi sampai sore untuk menenun satu sarung.
Sanggar Kolkita didirikan tahun 2015 dari kesepakatan 14 perempuan saat menjalankan ibadah bulan keluarga. “Puji Tuhan, doa kami terjawab,” kata Mama Baceba sambil tersenyum.
Setiap akhir bulan mereka berkumpul. “Kami berkumpul bukan hanya menenun, selain melestarikan budaya tenun, kami juga belajar untuk saling mengenal lebih dalam satu sama lain.” Perjalanan panjang itu kini berbuah dua sertifikat pelatihan, yakni sertifikan kelas pemula dan kelas lanjut.
Motif paling sering muncul adalah Be’o atau katak. Hewan kecil itu dipilih karena memiliki makna kehidupan.
“Karena katak bisa hidup di dalam air dan di darat.” ucap Mama Baceba.
Setiap warna juga menyimpan arti. Warna hitam melambangkan dasar laut dan sangat berbudaya. Putih diibaratkan sebagai tulang manusia. Orange menjadi tanda penyembahan dan penyerahan diri kepada Tuhan.
Ada pula motif berbentuk huruf “S” yang dahulu hanya dianggap hiasan.
“Awalnya kami tidak mengetahui arti bentuk huruf “S” yang tersulam itu, kami hanya menjadikannya sebagai hiasan. Tetapi kemudian kami mendapat petunjuk roh, dan kami tahu ternyata huruf “S” itu adalah nama tempat-Sono.”
Dari Sanggar Kolkita, kisah lain datang dari Tery seorang mahasiswi asal Ayotupas yang tetap menenun sambil menempuh pendidikan di salah satu universitas di Kota Kupang. Tery mulai belajar tenun dari neneknya sejak kelas 1 SMP. Di tengah kesibukan kuliah, ia masih setia pada alat tenun.
“Walaupun kuliah capek, saya tetap tenun,” kata Tery melalui sambungan telepon.
Baginya menenun bukan hanya pekerjaan, tetapi cara membantu orang tua membiayai pendidikan.
“Saya sadar biaya pendidikan tidak sedikit dan saya tidak ingin sepenuhnya bergantung pada orang tua. Karena itu, saya berusaha dengan kemampuan yang saya punya, salah satunya melalui tenun.”
Membagi waktu menjadi tantangan terbesar. Tugas kuliah menumpuk, sementara menenun membutuhkan ketelitian dan kesabaran. “Yang paling susah itu membagi waktu. Tugas kuliah sangat banyak, sementara tenun membutuhkan ketelitian dan kesabaran”.
Namun, justru dari situlah keteguhan lahir. Tery percaya bahwa budaya tidak boleh ditinggalkan hanya karena jaman berubah. Pesan Tery“Jangan malu dengan budaya sendiri, jangan malu menenun, karena disitulah letak keunikan kita.”
Kalimat itu menjadi pengingat bahwa Tery bisa menjaga tradisi sambil berinovasi.
Lalu, apa alasan kita untuk terus diam dan membiarkan budaya Sono pudar?

Sarung tenun Sono memiliki harga berbeda sesuai ukuran. Ukuran besar dijual seharga Rp3 juta, ukuran sedang Rp 2,7 juta dan ukuran kecil Rp2,5 juta. Harga itu bukan sekedar angka, melainkan hasil keringat dan waktu yang tak bisa dibeli.
Bagi masyarakat luar yang membeli dan memakai sarung tenun Sono, itu berarti mereka ikut menjaga nyawa Sanggar Kolkita.
Seni tenun bukan hanya soal benang dan warna. Dibalik setiap motif, ada pelajaran tentang kesabaran, ketelitian, tanggung jawab dan kerja keras. Dari tangan-tangan penenun seperti Mama Baceba dan Tery, terlihat bahwa seni budaya bukan sekedar warisan, tetapi ruang belajar untuk membentuk karakter generasi. Ketika budaya dijaga, sesungguhnya karakter bangsa sedang diperkuat.
Sepuluh menit mencoba memegang benang di samping Mama Baceba saja sudah membuat tangan saya terasa pegal. Sementara itu, ia bertahan selama enam bulan untuk menyelesaikan satu sarung. Dari situ terlihat bahwa, kadang kita cepat menyerah bukan karena kita lemah, tetapi tentang ketekunan yang dijaga setiap hari.
Saat wawancara, Mama Baceba tiba-tiba berhenti menenun. Ia mengangkat sarung yang di kerjakannya, lalu menunjuk motif bintang kecil sambil tersenyum.
“Ini bintang, nak. Kalau malam gelap, bintang yang nanti kasi tunjuk jalan.”
Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam. Enam bulan ia menyulam harapan ke dalam kain, tanpa benar-benar tahu apakah esok masih ada yang mau membelinya.
“Di Sono, bintang paling terang itu justru yang paling takut padam.”
Selama motif bintang itu masih tersulam di atas sarung, selama suara “tak…tak…tak…” masih terdengar di Sanggar Kolkita, selama masih ada tangan-tangan yang setia menenun, berarti jalan pulang menuju budaya sendiri belum hilang. Warisan itu masih hidup.
Dan mungkin, yang di butuhkan hanyalah satu pilihan sederhana; membeli, memakai, dan menceritakannya kembali agar suara tenun di Sanggar Kolkita tidak berubah menjadi sunyi, tetapi tetap menjadi nyanyian yang menguatkan dari generasi ke generasi.
Penafian; pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah pendapat pribadi penulis, dan bertanggungjawab atas segala informasi yang diberikan.

Luar biasa seorang siswa SMA dari desa dapat menuliskan kisah unik tentang budaya dalam hal menenun dan dapat memaknai setiap detail tenunan seperti bentuk katak bahkan warna tenunan, hebat anak terus berkarya dan berprestasi
Mantap anak. Tulisan yg luar biasa. Teruslah berkarya untuk masa depan yg lebih baik. Sukses slalu menyertaimu. 👍😇