Oleh Intan Ledoh Loasana-Siswi SMAS Kristen Manekto Kuatnana
Asap mengepul dari tengah Ume Kbubu, rumah bulat beratap ilalang yang menjadi ciri khas masyarakat Timor. Rumah yang terlihat sederhana tapi menyimpan banyak kenangan, rumah yang menjadi saksi bisu sejarah Timor.
Bagi masyarakat Timor, Ume Kbubu bukan sekedar tempat tinggal, namun juga tempat membangun rasa saling menghormati, kebersamaan antar anggota keluarga maupun masyarakat. Walaupun terlihat sederhana, namun Ume Kbubu sudah sangat melekat dan sudah menjadi identitas masyarakat Timor.
Ume Kbubu terdiri dari dua kata yaitu “Ume” dan “Kbubu”. Ume yang berarti rumah dan Kbubu yang berarti bulat. Secara harafiah, Ume Kbubu berarti Rumah Bulat. Penyebutan ini berdasarkan pada alas kerucut yang berbentuk lingkaran (bulat).
Alas rumah bulat ditandai dengan susunan batu yang menyerupai lingkaran atau yang disebut sebagai baki atau fondasi. Batu-batu tersebut juga berfungsi menahan dan membelokan aliran air hujan dari atap maupun banjir yang mengalir menuju rumah.
“ Sejak kecil kami sudah terbentuk di dalam Ume Kbubu, baik itu melahirkan, memasak, mengawetkan makanan, dan tempat menghangatkan badan sambil menceritakan sejarah pada anak-anak kami, sehingga sampai saat ini kami tetap melekat dengan Ume Kbubu, karena itu sudah tradisi kami” kata Bapak Anderias Tauho (42) salah satu warga Desa Tetaf, Kecamatan Kuatnana, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Dibandingkan rumah adat lainnya, Ume Kbubu memiliki keunikannya tersendiri dimana bentuknya yang bulat tanpa sudut membuat suhu ruangan tetap terjaga. Ilalang yang menjulur dari atap hingga mendekati tanah, serta pintu yang rendah, mengharuskan setiap orang menunduk saat masuk.
Selain digunakan untuk tempat memasak, Ume Kbubu juga sering digunakan sebagai tempat mengawetkan makanan seperti jagung, daging, dan umbi-umbian. Tungku api yang biasannya selalu menyala di bagian tengah rumah menghasilkan asap yang naik ke atas dan menyelimuti bahan makanan yang disimpan di loteng atau dalam bahasa dawan disebut Pana.
Selain mengawetkan makanan, Ume Kbubu juga dijadikan tempat bersalin, dikarenakan pada masyarakat dahulu, mereka belum mengenal rumah sakit ataupun klinik bersalin sehingga disaat bersalin hanya dibantu oleh perempuan tua berpengalaman dalam keluarga atau dukun
beranak.
Menurut tradisi masyarakat Timor yang disebut Sei, dimana ibu dan bayi yang baru lahir akan tetap berada di dalam Ume Kbubu selama 40 hari agar tetap hangat dan terlindungi. Selama masa nifas, ibu dan bayi akan dipanggang/dipanaskan menggunakan bara api yang ditaruh pada bagian bawah tempat tidur.
Hal ini diyakini mampu memulihkan fisik ibu dan memperkuat imun tubuh bayi. “ Setelah melahirkan kami harus dipanggang dulu di dalam Ume Kbubu selama 40 hari sehingga fisik kami kembali pulih” pungkas Ibu Maria Tauho (55).
Salah satu hal unik lainnya dari Ume Kbubu terletak pada proses pembuatan Ume Kbubu dimana semua bahan diambil dari alam sekitar seperti ilalang, bambu, tali alami, dan kayu.
Bahan-bahan tersebut dipilih dengan cermat agar kuat, tahan lama, serta mampu menjaga kehangatan didalam Ume Kbubu. Pada masa dahulu, masyarakat belum mengenal pendidikan, namun mereka dapat membangun Ume Kbubu dengan baik menggunakan teknik pengukuran jengkal jari.
Ilalang yang dipakai sebagai atap diukur sebesar pergelangan tangan lalu diikatkan pada rangka kayu yang sudah dibuat. Didalam Ume Kbubu terdapat empat tiang penyangga rumah kemudian tiang-tiang kecil yang mengikuti lingkaran batu dan berbentuk bundar.
Ini berfungsi untuk menahan kayu-kayu lata dan juga memudahkan proses pembuatan dinding. Biasanya dinding rumah bulat dibuat setinggi satu meter dan bahan utamanya adalah bambu atau betung yang dipecah-pecah lalu diapit dengan kayu bulat yang sedikit lentur lalu diikatkan pada tiang.
Dinding didirikan di atas batu atau fondasi Ume Kbubu. Dinding tidak dapat dilihat dari luar karena ditutupi oleh atap yang menyentuh tanah, hanya bisa dilihat dari bagian dalamnya.
“Dulu orang tua kami tidak bersekolah dan mereka mengajarkan proses pembuatan Ume Kbubu kepada kami hanya menurut apa yang mereka tahu. Mereka membangun Ume Kbubu hanya menurut perkiraan jengkal jari ( lete dan nehe)” Jelas Bapak Anderias Tauho.
Hal unik lainnya terletak pada pintu masuk Ume Kbubu yang sengaja dibuat lebih rendah bertujuan agar tetap menjaga suhu didalam tetap hangat. Selain itu, terdapat makna filosofi dari pembuatan pintu Ume Kbubu, pintunya dibuat lebih rendah agar ketika masuk kita harus menunduk, menandakan rasa hormat kepada perempuan ataupun anggota keluarga.
Pesatnya perkembangan jaman membuat eksistensi Ume Kbubu semakin menghilang. Hingga kini, sudah jarang sekali kita menemukan kelompok masyarakat yang masih tinggal di dalam Ume Kbubu. Masyarakat lebih memilih membangun rumah-rumah modern dengan bahan beton dan seng yang lebih tahan lama dan nyaman dihuni.
Namun, Ume Kbubu menjadi pengingat jati diri dan asal-usul masyarakat Timor. Bapak Anderias Tauho adalah salah satu warga Desa Tetaf yang masih berusaha mempertahankan eksistensi Ume Kbubu sebagai warisan budaya masyarakat Timor hingga saat ini.
Hal ini membuktikan, bahwa walaupun banyak jenis perumahan yang lebih baik dari sebuah Ume Kbubu yang sederhana, tetapi kehangatan yang berasal dari Ume Kbubu tidak bisa diganti.
Ume Kbubu bukan hanya tentang sebuah rumah untuk berlindung dari cuaca dingin, tetapi merupakan bangunan dimana orang tua mengajarkan sejarah, menamkan nilai-nilai kebersamaan, dan kehangatan sejati dilahirkan.
Ume Kbubu mengajarkan kebersamaan, kerukunan, dan kasih sayang. Ume Kbubu bukan hanya sekedar rumah bulat yang sederhana, namun sebuah rumah yang melahirkan dan memperkuat karakter anak-anak Timor.
Ume Kbubu menjadi saksi bisu, untuk melihat perubahan dari zaman ke zaman, dari tahun ke tahun dan dari generasi ke generasi. Ia adalah sebuah rumah bulat sederhana, yang selalu menjadi identitas masyarakat Timor.
Rumah bulat yang membuat setiap anak Timor dimana saja akan merindukan suasana kehangatannya. Ume Kbubu tempat menyimpan sejuta kenangan bagi masyarakat Timor.
Disclalimer: Informasi dan gagasan yang disajikan dalam tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis
