Oleh Vera Baok- Siswi SMA Negeri Tupan
Oleh Vera Baok- Siswi SMA Negeri Tupan
Di teras rumah Desa Tupan, ditemani kicauan burung, desiran angin yang menggoyahkan dedaunan, ada sepasang tangan yang terus bergerak memintal benang berwarna-warni, dan memadukannya menjadi motif.
Bunyi tak tak tak dari senu yang meghantam atis jadi alunan yang bernilai. Disitulah, rasa bangga lahir ketika sehelai selendang atau bahkan lembar selimut selesasi ditenun.
Jarinya tak bergetar, meski harus menyisipkan benang sehalus rambut di antara lunsing. Matanya menyipit, menghitung. Satu helai meleset, motif tenunan bisa gagal.
Ia adalah seorang ibu kelahiran tahun 1962, pensiunan guru sekolah dasar bernama Yanse Petronela Tapatab. Ia yang selalu tampil sederhana dan terlihat enerjik dalam keseharian yang juga aktif menjadi ketua PKK Desa Tupan.
Umur yang sudah tidak muda, tapi semangatnya tidak pernah padam dalam meghasilkan karya. Setelah pensiun dari tugas utama sebagai guru SD, ibu Tapatab terus mengabdikan diri di SMA Negeri Tupan sebagai tutor muatan lokal.
Ia mengajarkan keterampilan menenun kepada murid-murid perempuan di sekolah menengah atas dengan motivasi “keterampilan apa yang saya tahu, harus saya bagikan kepada anak murid saya.” Dengan motivasi ini, semangat untuk berbagi dari ibu Tapatab terus berkobar.
Bagi ibu Tapatab, menenun bukan hanya sekedar menghasilkan kain, tapi ada manfaat lain yang terkandung di dalamnya, yakni kain tenun di pakai pada hampir semua acara adat.
Budaya menenun khususnya di Indonesia, dianggap sangat istimewa karena bukan hanya sekedar menghasilkan kain, melainkan merupakan warisan budaya yang mendalam, penuh makna fisolofis, dan melibatkan keahlian tangan yang sangat tinggi.
Menurut wikipedia, asal-usual kain tenun biasanya terbuat dari serat kayu, kapas, sutra, benang perak, benang emas dan lainnya. Para ahli Antorologo menyatakan bahwa kegiatan menenun sudah ada sejak tahun 500SM, terutama di daerah Mesopotamia, Mesir, India, dan Turki.
Keberadaan kain tenun tradisional Indonesia di perkirakan sejak masa Neolitikum (prasejarah). Ini dibuktikan dengan ditemukannya benda-benda prasejarah. seperti tenunan, alat untuk memintal, dan bahan yang terlihat jelas adanya tenunan pada kain yang terbuat dari kapas.
Ditemukan lebih dari 3000 tahun yang lalu pada situs Sumba Timur, Gunung Wingko, Yogyakarta, Gilimanuk, Melolo. Kain tenun dan tradisi menenun dengan alat tradisional merupakan pengetahuan turun-temurun dari nenek moyang ke generasi berikutnya hingga kini.

Mama Tapatab, penenun di Desa Tupan
Menurut ibu Tapatab, cara membuat kain tenun pada zaman dahulu jauh berbeda dari sekarang. Dulu, para penenun harus memintal kapas menjadi benang dan proses itu disebut nasun abas , termasuk proses pewarnaan yang sangat tradisional dari akar dan daun.
Proses pembuatan kain tenunpun dapat menghabiskan waktu selama 6 bulan sampai 1 tahun secara keseluruhan. Dibandingkan zaman modern saat ini, proses menenun lebih mudah dimana benang warna-warni sudah tersedia sehingga para penenun dengan mudah mencocokkan dan memadukan warna yang sesuai.
Dengan demikian, waktu pengerjaan yang dibutuhkan hanya seminggu hingga satu bulan. Menenun bagi ibu Tapatan bukan sekedar membuat kain, tetapi merupakan aktifitas yang menyatukan hati, pikiran, dan keterampilan tangan.
Aktifitas menenun juga merupakan upaya menjaga budaya, agar tetap bertahan menghadapi tantangan kompleks yang mengancam keberlangsungan tradisi.
Tantangan lain yang dihadapi adalah minimnya minat generasi untuk mempelajari teknik menenun.
Berangkat dari keprihatinan minimnya minat generasi muda untuk menenun, ibu Tapatab terus berbagi pengetahuan menenun dari dasar, kepada murid perempuan di SMA Negeri Tupan.
Kami mulai dikenalkan pada menenun bukan sekedar proses membuat kain, melainkan sebuah tradisi sakral yang melibatkan spiritualitas, penghormatan kepada leluhur, dan siklus kehidupan.
Tradisi ini diwariskan dari generasi ke generasi terutama kaum perempua. Kain tenun merupakan hasil karya seni tekstil yang dibuat dengan teknik persilangan dua set benang, yaitu benang lungsing (vertikal) dan benang pakan (horizontal).
Perpaduan bunyi hentakan antara alat tenun, saat kita menenun dihasilkan dari interaksi antar beberapa kayu dengan nama dan fungsi berbeda, antara lain nekan adalah palang panjang, puat yaitu gulungan benang putih, sia (bambu kecil), utan (bambu sedang), senu (kayu datar), atis (dua kayu yang menjepit benang), nini (lilin padat yang digosokkan pada benang saat menenun), tani (sebagai penghubung paus ninu dan atis), paus ninu (kulit hewan yang diberi tali peyangga pada punggung penenun). Perpaduan dari alat tenun dan ketelitian dari penenun dapat menghasilkan kain yang eksotik.
Siang itu, selendang merah “Tenun lotis” akhirnya selesai di pangkuan kami. Ringan, tapi terasa berat oleh makna dan perjuangan. Ibu Tapatab tersenyum, tangannya yang kasar menepuk bahu kami pelan. “Sudah, besong bisa” kata ibu Tapatab.
Kalimat sederhana, tapi cukup buat kami percaya diri, bahkan menenun bukan masa lalu, melainkan bekal untuk melangkah. Dari teras. rumah ibu Tapatab tidak sedang mempertahankan kain. Ia sedang menenun harapan, bahwa selama masih ada yang mau belajar, masa depan akan selalu punya corak dan warna indah.
Tugas kita kini sederhana, yaitu memastikan bahwa bunyi hentakan senu dan atis tak berhenti di generasi ini. Karena ketika tenun berhenti, sebagian dari siapa kita juga ikut hilang.
Disclaimer: gagasan dan informasi yang disajikan dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.
