
Catatan Kainan Punuf, S,Pd.-Kepala SMA Negeri Noebana (dokpri)
Pagi itu, sebuah mobil pick up bergerak terseok sepanjang jalan berlumpur, sejak dari titik keberangkatan di SMA Negeri Noebana. Penumpang di atas mobil itu, adalah murid dan guru yang bergegas menuju Kota Soe sejauh 60-an km.
Jarak ini, mungkin terbilang dekat bagi sebagian orang, tetapi tidak bagi anak-anak SMA Negeri Noebana. Jalan pelosok berlumpur dan licin sehabis diguyur hujan semalam, membuat perjalanan ini terasa sangat berat dan jauh.
Hujan turun sepanjang malam, seolah tak memberi kesempatan bagi tanah untuk mengambil nafas. Anak-anak tetap harus berangkat, menembus jalan tanah, yang telah berubah menjadi kubangan lumpur. Setiap putaran roda mobil terasa berat, sesekali tenggelam dan tertanam oleh tanah liat basah yang lengket.
Sulitnya medan tempuh, tidak menyurutkan semangat anak-anak untuk menyalurkan minat dan bakat di ajang lomba. Di sepanjang jalan, genangan air berwarna cokelat memantulkan langit kelabu. Sesekali mobil terpeleset, kandas karena dalamnya lumpur dan harus ditarik gotongroyong oleh penumpangnya. Angin dingin menyapu wajah, bercampur dengan aroma tanah basah dan perjuangan tulus anak-anak.
Selama perjalanan, tangan harus kuat mencengkram bodi mobil untuk menahan guncangan. Sementara otak juga terus bekerja. Anak-anak saling bertukar ceritera seputar materi lomba, hingga taktik yang akan mereka terapkan di saat perlombaan nanti.

Saat mobil akhirnya memasuki kota Soe di sore hari, mereka disambut silau lampu dan kebisingan kota yang asing dan acuh. Dengan sisa-sisa tenaga, anak-anak menuju penginapan untuk menanti giat lomba keesokan harinya. Mereka melihat banyak orang dengan ambisi yang sama, membuat ruang kompetisi terasa sempit dan menyesakkan.
Hari perlombaanpun tiba. Aura kelelahan masih tampak dari sorot mata anak-anak. Namun, kelelahan itu sekejap sirna saat tampil di hadapan para juri. Semua rasa lelah, sisa lumpur jalanan, dan keraguan selama ini mengalir menjadi sebuah simfoni yang jujur.
Bagi saya, ini bukan perjalanan biasa untuk murid-murid. Ini adalah sebuah proses belajar, tentang bagaimana memahami tantangan alam, dan keteguhan mengejar mimpi di medan kompetisi. Perpaduan keduanya, menghasilkan anak-anak yang tangguh secara mental.
Untuk alasan inilah, mereka mau menerjang lumpur untuk hadir dalam ragam kegiatan lomba yang digelar Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kabupaten Timor Tengah Selatan, memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2026.

Jenis lomba yang tersedia adalah bernyanyi, membaca puisi, cerdas cermat empat pilar kebangsaan, atletik (lari), debat dan tari kreasi. Anak-anak terlihat ceria dan bangga, memiliki kesempatan berkompetisi bersama 56 SMA lainnya.
Mereka menyadari bahwa perjalanan sulit itu bukanlah penghalang, melainkan guru yang memberi “rasa” dalam setiap nada dan tenaga yang mereka tampilkan. Bakat mereka kini tidak lagi tersembunyi di balik bukit, tetapi mulai menggema di atas panggung keramaian kota.
Anak-anak belum berhasil menjadi pemenang. Tetapi, ajang ini merupakan salah satu persinggahan dalam perjalanan menjemput mimpi mereka di masa depan. Kini, mereka harus kembali fokus, berproses di sekolah, berlatih, memperkaya wawasan, menyusun ulang strategi dan kembali lebih tangguh pada musim kompetisi tahun berikut.
Semangat kompetisi meninggalkan pengalaman berkesan, tetapi perjalanan menjangkau kota adalah sisi lain yang menampakkan daya juang anak-anak SMAN Noebana.
